Wednesday, September 24, 2008

Susu formula bermelamine, hiii syerem...

Empat orang bayi meninggal dunia dan lebih dari 54000 bayi di Cina sakit dengan 13000 diantaranya harus dirawat di rumah sakit, setelah minum susu formula yang beredar di Cina. Semuanya didiagnosis mengalami gagal ginjal yang didapatkan setelah mengonsumsi susu formula yang terkontaminasi dengan melamine, suatu senyawa kimia berbahaya yang umumnya digunakan dalam industri kimia. Akibat kasus ini, Sanlu Group Co. sebagai produsen susu di Cina harus menarik 700 ton produknya dari pasaran. CNBC melaporkan, sedikitnya 9 negara melarang import semua produk berbasis susu dari Cina, dan WHO mengingatkan akan kemungkinan penyelundupan produk-produk tersebut melintasi batas negara.

Senyawa apakah melamine itu?


Melamine merupakan basa organik dengan rumus kimia C3H6N6 dengan nama standard IUPAC 1,3,5-triazine-2,4,6-triamin. Sebagaimana layaknya senyawa basa organik golongan amina, melamine tersusun oleh banyak sekali nitrogen sebagai unsur penyusunnya.

Dalam industri, melamine digunakan sebagai bahan untuk pembuatan pembersih, lem, dan juga bahan tahan panas. Apabila direaksikan dengan formaldehid, melamin berubah menjadi plastik tahan panas yang digunakan sebagai pembuatan alat-alat rumah tangga. Melamine juga merupakan komponen utama pewarna dalam pembuatan lipstik dan plastik.

Karena banyaknya kandungan nitrogen dalam melamine, melamine sering digunakan sebagai aditif NPN (non-protein nitrogen) dalam pakan ternak. Dengan adanya tambahan melanine ini, kandungan nitrogen dalam pakan ternak diharapkan akan meningkat dan pada saat dicerna, saluran pencernaan hewan bisa memfermentasikan nitrogen ini menjadi protein yang berguna bagi pertumbuhan hewan


Bagaimana melamine bisa meningkatkan kadar protein?

Dalam berbagai pemberitaan media mengenai kasus ini, dituliskan bahwa penambahan melamine dilakukan oleh produsen susu karena bisa meningkatkan kadar protein dalam susu. Sebenarnya peningkatan kadar protein setelah ditambahkan dengan melamine merupakan peningkatan yang semu, artinya jumlah total protein dalam produk sebenarnya tidak berubah. Hal ini lebih disebabkan karena keterbatasan metode analisis yang ada.
Untuk mengukur kadar protein dalam produk, ada beberapa metode standar yang digunakan secara luas yaitu metode Kjeldahl dan Dumas. Akan tetapi , kedua metode ini memilki kelemahan, karena yang diukur bukanlah kadar protein sesungguhnya, melainkan jumlah total nitrogen yang kemudian dikalikan dengan faktor konversi nitrogen 6,25 untuk mendapatkan jumlah totel protein. Artinya, dengan adanya penambahan melamin sebagai NPN aditif, jumlah nitrogen terukur akan merupakan penjumlahan antara nitrogen yang ada dalam susu sebagai bahan baku dan juga nitrogen yang berasal dari melamine. Sehingga hasilnya akan lebih besar dan mengakibatkan perhitungan kandungan proteinnya juga akan lebih besar.

Jumlah protein di dalam produk susu sangat menentukan apakah produk tersebut bisa dikatakan sebagai susu, lebih lagi bisakah produk tersebut diklaim sebagai susu formula yang sangat esensial bagi bayi. Untuk bisa dikatakan sebagai susu, suatu produk susu harus mengandung protein dalam jumlah minimal 34% protein susu dalam padatan terlarut selain lemak (Codex STAN 207-1999). Hal ini berarti, apabila kandungan protein di bawah nilai tersebut, produk tidak memenuhi syarat untuk dikatakan sebagai susu.
Lebih lanjut lagi, dalam kaitannnya dengan susu formula, Codex juga mengeluarkan standar tentang susu formula, bahwa susu formula harus mengandung protein dalam jumlah 1,8 - 3 g/100 kcal
(Codex STAN 72-1981).

Dalam kasus susu bermelamine Sanlu ini, terlepas apakah adanya faktor kesengajaan atau tidak, terjadinya kontaminasi melamine ke dalam produk susu menunjukkan masih lemahnya komitmen industri pangan untuk menghasilkan produk yang aman untuk dikonsumsi. Penerapan Sistem Manajemen Keamanan pangan merupakan sarana yang mutlak harus diterapkan, sehingga kita sebagai konsumen tidak lagi merasa was-was apabila membeli produk makanan tertentu.

2 comments:

Anonymous said...

Thanks infonya, sangat bermanfaat sekali. Apakah penambahan melamine pada produk pangan dapat dikategorikan sebagai "penipuan" konsumen

redifk said...

benar, karena kandungan protein sesungguhnya antara yang dikandung oleh susu dan yang diklaim di label tidak sama...