Wednesday, October 22, 2008

Idealkah berat badan kita?

Wah, kamu obes tuh...
Kurus banget sih? Kurang gizi yak?

Mungkin begitulah kata-kata yang sering kita dengar apabila menemukan seseorang dengan bentuk badan yang terlalu gemuk atau terlalu kurus.Tubuh kita memang terbentuk dengan ukuran dan bentuk yang berbeda-beda tergantung pada jumlah dan komponen pembentuk tubuh yang mana yang lebih dominan. Orang dengan komposisi lemak lebih banyak akan cenderung menampilkan bentuk tubuh yang lebih gemuk.
Akan tetapi seberapa objektifkah menilai berat badan seseorang hanya dengan melihat secara visual?

Body Mass Index (BMI) merupakan suatu metode sederhana dengan mambandingkan berat dan tingga badan untuk menentukan apakah seseorang tergolong ke dalam underweight, ideal, overweight, ataukah obesitas pada orang dewasa. Metode ini ditemukan oleh seorang polymath berkebangsaan Belgia,
Adolphe Quetelet. Dengan metode sederhana ini, sangat mudah untuk menentukan apakah seseorang mengalami obesitas atau tidak.
Cara penghitungannya dilakukan dengan rumus berikut.


Berdasarkan klasifikasi yang dibuat oleh WHO, ada empat kategori berat badan seseorang apabila melihat nilai BMInya, yaitu underweight (BMI <18,5),>30). Sebagai contoh, seseorang dengan berat badan 70 kg dan tinggi 1,75 m akan memiliki BMI 22,9. Berdasarkan grafik di bawah, orang tersebut tergolong memiliki berat ideal.

Nilai BMI tidak tergantung pada jenis kelamin dan usia. Walaupun demikian, nilai BMI juga tidak dapat menunjukkan komposisi tubuh dari 2 orang yang berbeda. Seorang atlet yang atletis dengan massa otot yang besar dan jumlah lemak yang rendah, mungkin saja memiliki BMI yang sama dengan seseorang berbadan gemuk yang memiliki lemak lebih banyak, seperti diilustrasikan pada gambar di bawah.

Yang jelas, BMI di atas 30 atau obesitas akan berasosiasi dengan bermacam-macam penyakit, seperti penyakit jantung, diabetes mellitus tipe 2, kanker tipe tertentu dan juga osteoarthritis. Sebagai akibatnya, obesitas dapat menurunkan tingkat harapan hidup. Di Amerika, perusahaan-perusahaan asuransi saat ini sudah mulai menggunakan BMI dalam menentukan program asuransi yang akan diberikan kepada kliennya. So, sebelum terlambat, mulailah memperhatikan dan memaintain berat tubuh kita pada posisi yang ideal.
Selengkapnya »»

Friday, September 26, 2008

Kolesterol, Dr Jeckyll dan Mr. Hide di dalam tubuh kita...(bag 3)

Selain faktor makanan, kadar kolesterol darah cenderung akan semakin meningkat seiring dengan bartambahnya usia kita. Kelebihan berat badan juga pada umumnya berasosiasi dengan meningkatnya kadar kolesterol total dan LDL. Setiap orang memiliki respon yang berbeda terhadap berat badan, namun secara umum kadar kolesterol darah akan turun apabila terjadi penurunan berat badan.

Wanita memiliki kecenderungan untuk memiliki kadar HDL lebih tinggi dan LDL lebih rendah dibandingkan dengan pria pada usia di bawah 50 tahun. Hormon sex estrogen pada wanita dapat meningkatkan kadar HDL. Hal ini dapat menjelaskan mengapa wanita premenopause terlindungi dari penyakit jantung. Setelah usia 50 tahun, masa wanita memasuki usia post-menopause, kadar LDL wanita akan meningkat karena terjadi penurunan produksi hormon estrogen.


Beberapa orang secara genetik memiliki kadar kolesterol darah yang tinggi. Penyimpangan genetik walaupun kecil, dapat memacu produksi LDL berlebih dan mengurangi kemampuan untuk menghilangkannya. Kecenderungan ini dapat diturunkan dari orang tua kepada anaknya.

Penyakit seperti diabetes mellitus dan hipertensi dapat menurunkan kadar HDL dan meningkatkan jumlah trigliserida, yang dibutuhkan dalam pembentukan Asetil Co-A, dan mempercepat terjadinya arteriosklerosis.

Faktor terakhir yang memengaruhi kadar kolesterol darah adalah gaya hidup. Tingkat stress yang tinggi dapat meningkatkan kadar kolesterol darah total. Kebiasaan merokok juga dapat menurunkan kadar HDL hingga 15%.

Biasakanlah bergaya hidup sehat
Banyak cara yang dapat kita lakukan untuk meminimalkan efek merugikan dari kolesterol, yang kesemuanya menuntut kekonsistenan kita.

Pola makan yang sehat saja tidak menjamin dapat menurunkan kadar kolesterol dalam darah kita. Sangat mungkin orang yang mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung kolesterol memiliki kadar kolesterol yang rendah, demikian juga sebaliknya, orang yang mengonsumsi sedikit kolesterol justru memiliki kadar kolesterol yang tinggi.

Cara terbaik untuk menurunkan kadar kolesterol darah adalah dengan mengombinasikan pola makan yang sehat, olahraga secara teratur, dan juga pola hidup yang sehat. Olahraga bahkan dapat menurunkan berat badan, yang pada akhirnya akan dapat mengurangi kadar kolesterol darah.

Baik buruknya pengaruh kolesterol dalam tubuh kita sangat ditentukan oleh kita sendiri. Kita yang menentukan apakah akan mengarahkan kolesterol menjadi Dr. Jeckyll yang memiliki sifat baik dan memberikan keuntungan kepada kita, ataukah Mr. Hide yang jahat dan suka membunuh.
Selengkapnya »»

Kolesterol, Dr Jeckyll dan Mr. Hide di dalam tubuh kita...(bag 2)

HDL vs LDL
Telah disebutkan sebelumnya bahwa kolesterol merupakan turunan senyawa lemak yang tidak larut air. Karena sifat tersebut, baik kolesterol yang berasal dari makanan maupun yang disintesis di dalam tubuh membutuhkan bantuan suatu senyawa protein yang berfungsi sebagai carrier dalam proses transportnya. Senyawa protein tersebut disebut sebagai apoprotein. Kolesterol berikatan dengan senyawa apoprotein membentuk kompleks yang disebut lipoprotein yang lebih larut air.

Selain kilomikron, terdapat senyawa lipoprotein lain yang bersirkulasi di dalam pembuluh darah berdasarkan pada densitasnya. Tipe pertama adalah LDL (low density lipoprotein) yang lebih dikenal sebagai "kolesterol jahat". LDL membawa kolesterol dari hati ke seluruh jaringan tubuh (ekstrahepatik). Sebagian besar kolesterol yang bersirkulasi di dalam pembuluh darah ada dalam bentuk LDL.


Apabila jumlah LDL tersebut melebihi batas aman yang dapat ditoleransi oleh tubuh, ada kemungkinan kolesterol tertinggal di dinding pembuluh darah membentuk plak yang lama-kelamaan dapat menyumbat pembuluh darah. Penyumbatan pembuluh darah ini disebut arteriosklerosis. Apabila penyumbatan tersebut terjadi di pembuluh darah yang menuju ke jantung, maka akan memicu terjadinya penyakit jantung, sedangkan bila penyumbatan terjadi di pembuluh darah yang menuju ke otak, akan memicu terjadinya stroke.

Sekitar sepertiga sampai seperempat kolesterol darah dibawa oleh HDL (High Density Lipoprotein), suatu bentuk lain lipoprotein. HDL dikenal sebagai kolesterol baik" karena jumlah HDL yang banyak di dalam pembuluh darah akan mencegah terjadinya arteriosklerosis. HDL cenderung untuk membawa kolesterol yang berlebihan di dalam pembuluh darah atau yang sudah membentuk plak di dinding pembuluh darah kembali ke hati, sehingga dapat memperlambat pembentukan plak selanjutnya.

Kadar kolesterol dalam darah
Kadar kolesterol darah ditentukan dengan metode analisis kimia dari sampel darah yang diambil dari tubuh. Kadar kolesterol darah dihitung dalam satuan miligram per desiliter darah (mg/dl). Kadar kolesterol darah terbagi menjadi tiga, yaitu rendah, normal, dan tinggi.

Pada manusia normal yang tidak memiliki penyakit jantung, kadar kolesterol darah dikatakan rendah apabila kadar kolesterol darah total kurang dari 200 mg/dl dan LDL lebih rendah dari 130 mg/dl. Kadar kolesterol darah normal apabila total kolesterol darah berkisar antara 200-239 mg/dl berkisar antara 130-159 mg/dl. Kadar kolesterol darah dikatakan tinggi apabila total kolesterol darah lebih dari 240 mg/dl dan LDL lebih dari 160 mg/dl.
Pada penderita penyakit jantung, kadar LDL di atas 100 mg/dl sudah dikatakan tinggi, dan HDL kurang dari 35 mg/dl dianggap rendah sehingga dapat memacu terjadinya serangan jantung.

Faktor yang memengaruhi kadar kolesterol darah
Banyak faktor yang memengaruhi kadar kolesterol darah seseorang, diantaranya adalah makanan, usia, berat badan, jenis kelamin, keturunan, dan gaya hidup.
Ada dua jenis golongan makanan yang disinyalir dapat meningkatkan kadar kolesterol darah. Golongan pertama adalah makanan yang mengandung kolesterol tinggi, yaitu makanan yang berasal dari hewan seperti daging, ayam, dan telur. Golongan kedua, adalah makanan yang banyak mengandung lemak jenuh dalam kadar tinggi meskipun bahan makanan tersebut tidak mengandung kolesterol, seperti minyak sawit, minyak kelapa, dan alpukat.

Perlu diperhatikan bahwa hanya makanan yang berasal dari hewan yang mengandng kolesterol. Kita sering diberikan informasi berupa iklan minyak goreng atau produk makanan tertentu asal tumbuhan tidak mengandung kolesterol. Pernyataan ini memang benar, akan tetapi pernyataan ini membodohi masyarakat karena membuat seolah-olah produk tersebut baik untuk kesehatan karena adanya penekanan bahwa produk tersebut tidak mengandung kolesterol.

bersambung lagi....
Selengkapnya »»

Thursday, September 25, 2008

Kolesterol, Dr Jeckyll dan Mr. Hide di dalam tubuh kita

Anda mungkin pernah membaca kisa Dr. Jeckyll and Mr. Hide? Cerita karangan Robert Louis Stevenson pada tahun 1908 ini bercerita tentang seorang pria dengan kepribadian ganda. Berkat ramuan obat yang dibuatnya, pada siang hari pria tersebut, yang berprofesi sebagai dokter, menjadi Dr. Jeckyll pria yang ramah, baik hati dan suka menolong sesama yang sedang menderita sakit. Akan tetapi, bila malam tiba sang pria berubah menjadi Mr. Hide, seorang pria dengan sifat jahat yang suka membunuh.


Di dalam tubuh kita, ternyata ditemukan juga satu senyawa yang memiliki dua karakter yang bertolak belakang tersebut.


Kolesterol namanya. Orang lebih mengenal kolesterol sebagai senyawa yang berbahaya yang dapat menimbulkan berbagai penyakit. Akan tetapi, di sisi lain kolesterol merupakan senyawa yang sangat dibutuhkan oleh tubuh kita.
Kolesterol merupakan suatu senyawa kimia golongan steroid yang merupakan turunan dari lemak. Kolesterol banyak ditemukan di dalam makanan dan juga di dalam tubuh kita. Pada dasarnya, kolesterol sangat dibutuhkan oleh tubuh untuk pembentukan dan pemeliharaan membran sel, pembentukan hormon sex (progesteron, testosteron, estradiol, kortisol), pembentukan vitamin D, dan pembentukan asam empedu. Akan tetapi kelebihan kolesterol bisa memacu penyakit seperti jantung dan stroke.

Sumber kolesterol dalam tubuh

Fakta yang tidak banyak diketahui oleh masyarakat secara umum bahwa 85% kadar kolesterol darah berasal dari sintesis oleh tubuh kita secara de novo dan hanya sekitar 15% kolesterol darah yang berasal dari asupan makanan. Kolesterol darah merupakan kolesterol yang bersirkulasi di dalam sistem pembuluh darah.

Di dalam tubuh, kolesterol disintesis secara de novo di dalam hari melaui suatu mekanisme kimia yang kompleks. Sintesis kolesterol dimulai dari pembuatan senyawa Asetil Co-A sampai terbentuknya kolesterol. Sintesis dan penggunaan kolesterol di dalam tubuh diatur secara ketat untuk mencegah akumulasi kolesterol yang berlebihan yang dapat membahayakan kesehatan.

Kolesterol yang berasal dari asupan makanan, diserap oleh usus halus untuk kemudian diikat oleh suatu senyawa kimia yang disebut sebgai kilomikron. Pengikatan kolesterol oleh kilomikron disebut juga sebgai emulsikfikasi. Proses tersebut terjadi karena sifat kolesterol yang tidak larut air menyebabkan kolesterol tidak larut juga di dalam darah. Setelah diikat oleh kilomikron, kolesterol ditransport menuju ke hati melalui pembuluh darah untuk dikumpulkan bersama dengan kolesterol yang disintesis oleh hati.

Asam Empedu

Di dalam hati, penggunaan terbesas kolesterol adalah dalam pembuatan asam empedu yang merupakan salah satu mekanisme yang penting untuk mengatasi kelebihan kolesterol dalam darah.
Setelah diproduksi di hati, asam empedu disimpan di dalam kantong empedu untuk kemudian disirkulasikan ke tubuh untuk membantu proses metabolisme tubuh. Salah satunya adalah asam empedu disekresikan ke dalam usus halus dan digunakan untuk membantu proses emulsifikasi kolesterol dengan kilomikron.
Beberapa peranan penting yang lain dari asam empedu adalah sebagai berikut:

  1. Asam empedu bersama fosfolipid melarutkan kolesterol di dalam kantung empedu dan mencegah pengendapannya
  2. Memfasilitasi pencernaan lemak dari asupan makanan dengan berperan sebagai pengemulsi untuk mempermudah proses hidroslisis/pemecahan oleh lipase pankreas
  3. Memfasilitasi penyerapan vitamin larut lemak dalam usus halus

Selain digunakan dalam sintesis asam empedu, kolesterol akan ditransport ke luar jaringan hati (ekstrahepatik) untuk memenuhi kebutuhan sel tubuh. Walaupun demikian, apabila kapasitas hati dalam pembuatan asam empedu sudah terlampaui sedangkan proses sintesis kolesterol dan asupan kolesterol dari makanan ke hati masih terus berlangsung, fungsi hati akan terganggu.

bersambung....
Selengkapnya »»

Wednesday, September 24, 2008

Susu formula bermelamine, hiii syerem...

Empat orang bayi meninggal dunia dan lebih dari 54000 bayi di Cina sakit dengan 13000 diantaranya harus dirawat di rumah sakit, setelah minum susu formula yang beredar di Cina. Semuanya didiagnosis mengalami gagal ginjal yang didapatkan setelah mengonsumsi susu formula yang terkontaminasi dengan melamine, suatu senyawa kimia berbahaya yang umumnya digunakan dalam industri kimia. Akibat kasus ini, Sanlu Group Co. sebagai produsen susu di Cina harus menarik 700 ton produknya dari pasaran. CNBC melaporkan, sedikitnya 9 negara melarang import semua produk berbasis susu dari Cina, dan WHO mengingatkan akan kemungkinan penyelundupan produk-produk tersebut melintasi batas negara.

Senyawa apakah melamine itu?

Melamine merupakan basa organik dengan rumus kimia C3H6N6 dengan nama standard IUPAC 1,3,5-triazine-2,4,6-triamin. Sebagaimana layaknya senyawa basa organik golongan amina, melamine tersusun oleh banyak sekali nitrogen sebagai unsur penyusunnya.

Dalam industri, melamine digunakan sebagai bahan untuk pembuatan pembersih, lem, dan juga bahan tahan panas. Apabila direaksikan dengan formaldehid, melamin berubah menjadi plastik tahan panas yang digunakan sebagai pembuatan alat-alat rumah tangga. Melamine juga merupakan komponen utama pewarna dalam pembuatan lipstik dan plastik.

Karena banyaknya kandungan nitrogen dalam melamine, melamine sering digunakan sebagai aditif NPN (non-protein nitrogen) dalam pakan ternak. Dengan adanya tambahan melanine ini, kandungan nitrogen dalam pakan ternak diharapkan akan meningkat dan pada saat dicerna, saluran pencernaan hewan bisa memfermentasikan nitrogen ini menjadi protein yang berguna bagi pertumbuhan hewan


Bagaimana melamine bisa meningkatkan kadar protein?

Dalam berbagai pemberitaan media mengenai kasus ini, dituliskan bahwa penambahan melamine dilakukan oleh produsen susu karena bisa meningkatkan kadar protein dalam susu. Sebenarnya peningkatan kadar protein setelah ditambahkan dengan melamine merupakan peningkatan yang semu, artinya jumlah total protein dalam produk sebenarnya tidak berubah. Hal ini lebih disebabkan karena keterbatasan metode analisis yang ada.
Untuk mengukur kadar protein dalam produk, ada beberapa metode standar yang digunakan secara luas yaitu metode Kjeldahl dan Dumas. Akan tetapi , kedua metode ini memilki kelemahan, karena yang diukur bukanlah kadar protein sesungguhnya, melainkan jumlah total nitrogen yang kemudian dikalikan dengan faktor konversi nitrogen 6,25 untuk mendapatkan jumlah totel protein. Artinya, dengan adanya penambahan melamin sebagai NPN aditif, jumlah nitrogen terukur akan merupakan penjumlahan antara nitrogen yang ada dalam susu sebagai bahan baku dan juga nitrogen yang berasal dari melamine. Sehingga hasilnya akan lebih besar dan mengakibatkan perhitungan kandungan proteinnya juga akan lebih besar.

Jumlah protein di dalam produk susu sangat menentukan apakah produk tersebut bisa dikatakan sebagai susu, lebih lagi bisakah produk tersebut diklaim sebagai susu formula yang sangat esensial bagi bayi. Untuk bisa dikatakan sebagai susu, suatu produk susu harus mengandung protein dalam jumlah minimal 34% protein susu dalam padatan terlarut selain lemak (Codex STAN 207-1999). Hal ini berarti, apabila kandungan protein di bawah nilai tersebut, produk tidak memenuhi syarat untuk dikatakan sebagai susu.
Lebih lanjut lagi, dalam kaitannnya dengan susu formula, Codex juga mengeluarkan standar tentang susu formula, bahwa susu formula harus mengandung protein dalam jumlah 1,8 - 3 g/100 kcal
(Codex STAN 72-1981).

Dalam kasus susu bermelamine Sanlu ini, terlepas apakah adanya faktor kesengajaan atau tidak, terjadinya kontaminasi melamine ke dalam produk susu menunjukkan masih lemahnya komitmen industri pangan untuk menghasilkan produk yang aman untuk dikonsumsi. Penerapan Sistem Manajemen Keamanan pangan merupakan sarana yang mutlak harus diterapkan, sehingga kita sebagai konsumen tidak lagi merasa was-was apabila membeli produk makanan tertentu.
Selengkapnya »»

Sunday, September 21, 2008

Food hazards, apa sajakah?

Sadarkah kita bahwa banyak sekali potensi bahaya yang disebabkan oleh makanan yang kita konsumsi sehari-hari? Bahaya-bahaya ini bisa terbawa dalam produk makanan karena banyak sekali factor, seperti pengolahan yang tidak sesuai dan kontaminasi silang. ISO 22000 membagi 3 tipe bahaya yang ada dalam makanan yang kita konsumsi, yaitu:


1. Bahaya kimia,

Disebabkan oleh adanya bahan-bahan kimia berbahaya dalam produk pangan. Efek dari bahaya kimia ke tubuh kita dapat terjadi secara akut dan kronis. Secara akut terjadi apabila bahan kimia yang ada dalam makanan langsung memberikan efek kepada kesehatan, seperti pusing, muntah-muntah, atau bahkan kematian. Sedangkan efek secara kronis terjadi bila bahan kimia yang dikonsumsi, tidak langsung berakibat ke kita akan tetapi terakumulasi terlebih dahulu di dalam tubuh. Efek baru dirasakan setelah bertahun-tahun kemudian.

Bagaimana bahan kimia berbahaya bisa ada di dalam makanan yang kita konsmsi?

Ada 3 cara bahan kimia bisa ada dalam makanan:

· Secara alami ada dalam bahan makanan.

Ada beberapa bahan makanan tertentu yang mengandung bahan kimia berbahaya yang tidak selayaknya dikonsumsi. Umumnya masyarakat mengenalnya sebagai racun pada bahan makanan. Beberapa hari lalu di kecamatan Wanareja, Banjar, satu keluarga keracunan setelah makan jamur hutan saat berbuka puasa pada Kamis (11/9), tiga tewas dan dua lainnya selamat.

Selain jamur, beberapa bahan makanan seperti kacang-kacangan diketahui mengandung racun tertentu yang disebut aflatoksin.


· Sengaja ditambahkan dalam makanan.

Banyak sekali bahan tambahan makanan yang sengaja ditambahkan untuk memperbaiki properties dari produk makanan tersebut, diantaranya adalah pewarna, pemanis, pengawet, anti kempal, dan lain-lain. Pada dasarnya penambahan bahan-kimia tersebut diizinkan oleh regulasi asal menggunakan bahan-bahan yang sudah disetujui oleh otoritas pemerintah, seperti FDA, BPOM, dan lembaga lainnya. Sayangnya, banyak produsen makanan yang menggunkana bahan tambahan makanan yang tidak seharusnya digunakan dalam makanan, dengan alasan lebih murah. Kasus tahu dan ayam berformalin merupakan salah satu contoh. Sering juga kita melihat penjual minuman di pinggir jalan yang menjual minuman berwarna-warni sangat menarik. Padahal beberapa bahan pewarna yang digunakan adalah pewarna tektil yang merupakan bahan kimia berbahaya.


· Tidak sengaja ada dalam bahan makanan.

Umumnya pengelolaan lingkungan seperti lahan pertanian dan pertambangan yang tidak tepat menjadi penyebab utama adanya bahan kimia dalam bahan makanan. Penggunaan bahan kimia seperti insektisida, herbisida dalam pertanian, dan penggunaan mercury dalam pertambangan emas menyebabkan kontaminasi bahan kimia dalam produk pangan. Mungkin kita masih ingat kasus teluk Buyat beberapa tahun lalu. Tailing dari proses penambangan emas yang mengandung bahan kimia mercury mencemari laut di sekitar penambangan dan akibatnya habitat ikan di daerah tersebut juga terkontaminasi oleh mercury. Pada saat ikan dkonsusmi oleh penduduk sekitar, mercury yang ada di dalam ikan ditransfer ke dalam tubuh manusia, dan setelah konsumsi bertahun-tahun masyarakat mengalami gejala penyakit seperti minamata disease. Kasus lain adalah penggunaan insektisida jenis DDT pada tahun 40an untuk mengatasi penyakit malaria.


2. Bahaya Biologi

Bahaya biologi mengacu pada keracunan makanan sebagai akibat aktivitas mikroba yang mencemari produk pangan. Makanan merupakan produk yang gampang sekali terkontaminasi oleh mikroba, terutama makanan yang berasal dari telur, daging, susu, dan produk-produk turunannya.

Ada beberapa tipe mikroba yang sering ditemukan dalam produk makanan, diantaranya kapang dan bakteri. Roti yang sudah kadaluwarsa sering terihat ditumbuhi jamur yang dalam bahasa biologi disebut sebaga kapang. Kapang ini akan mengeluarkan toksin atau racun tertentu yang bila dikonsumsi menyebabkan keracunan. Bakteri bisa meracuni dengan dua cara. Cara pertama bakteri mengontaminasi makanan dan mengeluarkan racun (toksin) tertentu. Pada saat dikonsumsi, bakteri mungkin sudah mati, akan tetapi racun yang sudah terlanjur dikeluarkan akan menyebabkan keracunan. Hal ini disbeut intoksikasi. Cara yang kedua adalah bakteri hidup ikut tertelan bersama makanan, dan di dalam tubuh mengeluarkan racun yang membahayakan. Proses ini disebut infeksi.

Beberapa contoh menarik dari bahaya biologi adalah kasus kematian beberapa warga di daerah Babakan Madang, Kabupaten Bogor beberapa tahun lalu kerena mengonsumi daging kambing yang sudah terkontaminasi oleh bakteri Baccilus antraxis. Selain itu, kasus penyakit sapi gila (mad cow) adalah contoh dari bahaya biologi.


3. Bahaya Fisik

Tipe bahaya terakhir yang agak jarang ditemukan adalah bahaya fisik. Bahaya ini terjadi karena adanya benda-benda fisik, seperti pecahan kaca, kayu, besi yang terbawa bersama makanan. Pada saat dionsumi, benda-benda tersebut ikut tertelan dan menyebabkan luka di saluran pencernaan kita.


Dengan begitu banyaknya potensi bahaya yang ada dalam produk makanan, industri dituntut untuk lebih memperhatikan keamanan dari produknya. Harus ada suatu system yang bisa mengurangi potensi bahaya tersebut ke level yang tidak membahayakan. Salah satu system yang sudah ada saat ini adalah ISO 22000, Food Safety Management System atau yang dulu dikenal sebagai HACCP (Hazard Analytical Critical Control Point). Saat ini penerapan ISO 22000 sudah sangat mutlak untuk dilakukan karena dapat membuat produsen makanan lebih bersaing melaluai jaminan keamanan produknya.

Selengkapnya »»

Friday, September 19, 2008

Produk kadaluwarsa, amankah dikonsumsi?

Beberapa bulan yang lalu, kalau sering nonton TV, kita dikejutkan dengan berita bahwa di daerah Cirebon ada pasar yang dengan sengaja dan terang-terangan memperjualbelikan produk pangan kadaluwarsa, seperti mie instan, susu kental manis, dan juga roti. Faktor kesulitan ekonomi menjadi penyebab mereka melakukan hal tersebut. Hal ini dimanfaatkan oleh sekelompok orang yang tidak bertanggung jawab yang dengan sengaja mengumpulkan produk-produk kadaluwarsa dan menyuplainya ke pasar tersebut.

Memasuki bulan suci Ramadhan ini, razia yang dilakukan oleh dinas kesehatan di berbagai daerah di sejumlah pasar tradisional dan juga suprmarket menemukan beberapa produk kadaluwarsa yang masih dijual. Ada yang masih terpajang di rak, dan ada juga yang dijual dalam bentuk parsel.

Apakah sebenarnya produk pangan kadaluwarsa ini masih dapat dikonsumsi?

Industri makanan dalam menentukan tanggal kadaluwarsa (expire date) mempertimbangkan faktor-faktor berikut:

1. Keamanan pangan. Produk pangan dikatakan kadaluwarsa apabila dikonsumsi bisa menyebabkan sakit pada konsumen. Yang tergolong produk pangan kategori ini adalah produk-produk yang berasal dari daging, telur, susu, dan produk-produk turunannya. Produk-produk ini sangat rentan terkontaminasi oleh bakteri, yang bisa menghasilkan toksin tertentu di dalam produk pangan. Konsumsi produk kadaluwarsa dari kategori ini sangat tidak diperbolehkan karena sangat membahayakan konsumen

2. Nutrisi. Dalam proses pembuatannya beberapa produk pangan ditambahkan dengan nutrisi tertentu, seperti vitamin, mineral, dan protein. Nutrisi-nutrisi tersebut diharapkan dapat memberikan manfaat bagi tubuh apabila dikonsumsi. Apabila produk sudah kadaluwarsa, artinya jumlah nutrisi-nutrisi tersebut sudah jauh berkurang dari pada saat produk dibuat, artinya nutrisi tersebut tidak akan memberikan manfaat apa-apa apabila dikonsumsi.

3. Kualitas. Produk dikatakan kadaluwarsa apabila telah terjadi perubahan fisik produk pangan. Contoh dari produk-produk ini adalah produk yang berbahan dasar gula, seperti permen. Seiring masa penyimpanan, produk-produk permen akan mengalami perubahan bentuk fisik seperti misalnya meleleh. Hal ini bisa mempengaruhi persepsi konsumen yang akan menganggap produk sudah tidak berkualitas. Secara kesehatan, produk-produk seperti ini masih aman untuk dikonsumsi. Kandungan gula yang tinggi menyebabkan bakteri tidak dapat tumbuh dalam produk.

Kadangkala, ketiga kombinasi di atas bisa ditemukan dalam produk pangan kadaluwarsa.
Walaupun beberapa produk pangan masih aman dikonsumsi, sangat disarankan untuk mengonsumsi produk yang masih dalam masa kadaluwarsa. Hati-hati apabila membeli produk pangan dan selalu periksa tanggal kadaluwarsa produk (expire date) yang selalu tertera di kemasan produk.
Selengkapnya »»